• (0285) 381992
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Sumber: mangrovemulyoasri.com

Banjir rob merupakan salah satu isu krusial yang dihadapi Kabupaten Pekalongan terutama di Kecamatan Tirto. Terletak di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kawasan Mangrove Mulyoasri awalnya merupakan wilayah persawahan dan tambak udang. Akan tetapi sejak abrasi atau banjir rob kerap melanda, wilayah tersebut tergenang air secara terus menerus dan tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk kegiatan usaha tani maupun tambak, warga sekitar pun kehilangan mata pencaharian. Didorong oleh kebutuhan ekonomi dan kesadaran akan lingkungan, Kelompok Tani Banawa Sekar akhirnya menginisiasi pengembangan kawasan wisata mangrove di daerah tempat tinggal mereka.

Kondisi Eksisting:

Berawal dari dana swadaya masyarakat, Mangrove Mulyoasri yang awalnya hanya ditujukan untuk konservasi mangrove mencoba mengembangkan daya tarik lain. Kawasan ini kemudian mendapat perhatian dan pendampingan dari DLHK Provinsi Jawa Tengah. Saat ini, Kawasan Mangrove Mulyoasri menawarkan beberapa paket wisata yang mencakup wisata alam, wisata edukasi, wisata kuliner, dan wisata susur sungai. Melalui pemasukan dari pengembangan sederhana tersebut, KTH Banawa Sekar mampu mempertahankan kegiatan komunitasnya. Lebih lanjut, berbekal sponsorship dan CSR perusahaan BUMN, telah tersedia pula fasilitas penunjang seperti area parkir, gazebo, cafetaria, toilet umum, dermaga, dekorasi artistik, hingga perluasan area konservasi di Kawasan Mangrove Mulyoasri.

Kawasan Mangrove Mulyoasri telah berhasil menarik minat para pengunjung secara konsisten. Pengunjung secara umum didominasi oleh siswa sekolah, mahasiswa, peneliti, hingga relawan asing dalam rangka aktivitas edukasi maupun kegiatan sosial-lingkungan. Selain paket wisata, Mangrove Mulyoasri juga menawarkan jasa pembibitan mangrove dalam jumlah besar. Tak hanya memberi dampak positif untuk lingkungan, jasa usaha ini juga sangat potensial dengan banyaknya perusahaan, instansi, institusi, maupun penyelenggara lain yang kerap mengadakan aksi penanaman mangrove secara massal. Masyarakat sekitar juga mencoba inovasi lain dengan mengolah buah mangrove menjadi produk-produk bernilai jual seperti sirup dan dodol.

Pengembangan:

Seiring dengan meningkatnya kesadaran pemerintah dan masyarakat akan ancaman abrasi, Mangrove Mulyoasri dinilai sebagai proyek yang perlu mendapat perhatian. Mangrove Mulyoasri sendiri sudah memiliki tata kelola adminsitrasi dan manajemen yang baik. Meski demikian, pengembangan seperti pengurusan legalitas untuk menjadi desa wisata,  perbaikan sarana dan prasarana, peningkatan jumlah dan kapasitas pengelola, strategi promosi dan branding, hingga penambahan area dan jumlah pohon mangrove sangat dibutuhkan agar kawasan ini bisa semakin berkembang serta terus produktif dan lestari. Kepentingan pengembangan Kawasan Mangrove Mulyoasri bukan hanya untuk meningkatkan perekonomian warga setempat, tetapi juga merupakan upaya konservasi alam dan lingkungan,demi kelangsungan pembangunan yang berkelanjutan.


Sumber: instagram.com/desa_wisata_bedagung

Berada di wilayah dataran tinggi, Desa Wisata Bedagung menawarkan keindahan alam berupa hamparan hutan pinus yang mengikuti kontur bukit dan membentuk pola lereng bertingkat yang khas. Aliran sungai yang membelah hutan tersebut menambah nuansa segar dan menenangkan bagi para pengunjung yang ingin melepas penat.

Kondisi Eksisting:

Desa Wisata Bedagung menyediakan spot-spot yang nyaman dan aesthetic bagi pengunjung untuk bersantai di tepi sungai dan dikelilingi rimbun pohon pinus. Terdapat pula menyediakan fasilitas penunjang seperti camping ground, wisata kopi lokal, persewaan peralatan camping dan grillcafetaria, jungle tracking, kamar mandi umum, mushola, spot foto, area parkir hingga kios souvenir yang dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung. Melalui bimbingan dan pendampingan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Pekalongan, Desa Wisata Bedagung telah menerima SK Desa Wisata yang tertib secara legal dan administrasi serta memilki konsep branding dan promosi yang menarik. Pengunjung Desa Wisata Bedagang tercatat stabil dan mengalami peak season pada momen akhir pekan. Dengan pencapaian-pencapaian tersebut, Desa Wisata Bedagung berhasil masuk dalam 10 besar Desa Wisata Terbaik dalam Gelar Desa Wisata Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi, Jawa Tengah.

Sumber: instagram.com/desa_wisata_bedagung

Pengembangan:

Tak hanya keindahan alam, Desa Bedagung masih memiliki potensi lain dari arsip memori kolektif bangsa berupa cerita sejarah desa yang dapat digali lebih lanjut untuk dikembangkan menjadi wisata sejarah dan budaya dengan memberdayakan masyarakat setempat sebagai tour guide. Selain itu, pengembangan dari segi pembangunan infrastruktur, penyediaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana, hingga peningkatan kapasitas pengelola wisata juga dibutuhkan agar Desa Wisata Bedagung bisa menjaga kualitas pelayanannya dan terus diminati. Mengingat tingginya animo masyarakat akan aktivitas nature healing serta lokasinya yang berada di jalur provinsi Pekalongan-Dieng, Desa Wisata Bedagung dinilai bisa menjadi atraksi wisata yang akan bertahan dalam jangka waktu lama apabila dikelola dengan baik.

 



Sumber: pexels.com/id-id/foto/tpa-dari-pandangan-mata-burung

Pengelolaan sampah merupakan salah satu isu lingkungan paling mendesak di Indonesia. Di Kabupaten Pekalongan sendiri, produksi sampah terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2024, Kabupaten Pekalongan memiliki jumlah produksi sampah sebanyak 147.078,06 ton dengan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) berlokasi di Dukuh Bojong Larang, Desa Linggo Asri seluas 4,54 ha. Meski jumlah produksi tersebut masih terbilang rendah dibandingkan daerah lain di Jawa Tengah, namun tindakan antisipasi tetap perlu dilakukan seiring dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang cepat di Kabupaten Pekalongan agar sampah tidak menjadi ancaman isu di masa mendatang.

Kondisi Eksisting:

Kabupaten Pekalongan memiliki Bank Sampah Induk yang menampung suplai sampah dari Bank Sampah Unit di Kabupaten Pekalongan. Sampah yang dikumpulkan di Bank Sampah kemudian disalurkan ke pabrik pengolah bahan bakar alternatif atau RDF di Kabupaten Batang dan pabrik mainan di Kecamatan Tirto. Namun, Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat belum ada capaian kinerja pengelolaan sampah di Kabupaten Pekalongan. Hal ini salah satunya karena TPA Bojong Larang masih bersifat open dumping dan sampah-sampah terpilah dari Bank Sampah seringkali disalurkan ke pengepul.

Pengolahan sampah di Kabupaten Pekalongan masih sangat bisa untuk dikembangkan. Guna memaksimalkan pengolahan sampah menjadi sumberdaya yang bermanfaat serta mampu mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan, maka investasi di sektor pengolahan sampah di Kabupaten Pekalongan dinilai perlu dilakukan. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Pekalongan sedang merencanakan pembangunan lokasi TPA baru di wilayah Kajen, Kesesi, atau Bojong. Diharapkan lokasi TPA baru nantinya sudah menerapkan sistem pengelolaan dan pengolahan sampah yang lebih baik.  

Pengembangan:

Berdasarkan data Dinperkim dan LH Kabupaten Pekalongan, volume sampah terbesar di Kabupaten Pekalongan berasal dari jenis sampah lain-lain atau sampah residu, disusul  oleh jenis sampah plastik. Meskipun sampah residu tidak bisa didaur ulang secara konvensional, menurut penelitian jenis sampah residu dan sampah plastik justru dapat diolah menjadi renewable energy. Sampah residu dapat dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif (RDF), sementara sampah plastik dapat dimanfaatkan untuk campuran bahan konstruksi seperti paving block dan aspal.

Dengan jumlah volume yang ada, alih-alih menyalurkannya pada pabrik di daerah lain, Kabupaten Pekalongan diharapkan dapat mengolah sendiri sampah residu dan sampah plastik sehingga kesadaran masyarakat akan lingkungan serta kemandirian ekonomi lokal dapat ikut bertumbuh.

Dalam hal ini, selain peran pemerintah daerah, sektor swasta juga diharapkan memainkan peran penting dalam mengembangkan potensi ekonomi sampah. Pemerintah Kabupaten Pekalongan terbuka kepada para stakeholder yang ingin menanamkan modal dan berkontribusi baik melalui investasi pengetahuan maupun teknologi. Pemerintah juga akan berupaya untuk membantu kemudahan perizinan dan penyediaan lahan demi terealisasinya usaha pengolahan sampah residu dan plastik di Kabupaten Pekalongan.


Sumber: instagram.com/lolong_adventure

Desa Lolong yang terletak Kecamatan Karanganyar sering menjadi tujuan wisata baik untuk warga lokal maupun masyarakat dari luar kota yang sedang berkunjung ke Kabupaten Pekalongan. Wisatawan yang bertandang umumnya adalah pecinta durian yang ingin merasakan durian lolong. Desa Lolong memang kaya produksi buah durian lokal unggul yang melimpah dan dipanen sistem petik tiban secara turun temurun. Buah durian khas Lolong dikenal memiliki tekstur yang lembut, beraroma tajam, serta rasa yang manis dan legit.

Kondisi Eksisting:

Buah durian adalah daya tarik utama dari Desa Lolong. Dengan daya tarik tersebut, pemerintah rutin menggelar “Festival Durian Lolong” setiap masa panen dan berhasil menarik ratusan pengunjung baik dari dalam maupun luar kota. Selain durian, pengunjung juga dapat mengeksplorasi keindahan alam Desa Lolong yang berada di daerah pegunungan seperti tracking di perbukitan, berkeliling kebun buah, menikmati panorama curug di atas bukit, hingga memacu adrenalin dengan wahana rafting.

Wahana rafting yang melewati Sungai Sengkarang dikelola oleh kawasan Lolong Adventure. Sungai Sengkarang memiliki arus yang deras serta aliran air yang tidak pernah surut, membuat atraksi arung jeram dan river tubing di sungai ini sangat menarik untuk dicoba. Tak hanya rafting, Lolong Adventure juga menawarkan kegiatan alam lain seperti outbound dan camping ground serta dilengkapi fasilitas seperti mushola, toilet, cafe, gazebo, dan area parkir.

Sumber: https://pekalongankab.go.id/

Sumber: instagram.com/lolong_adventure

Pengembangan:

Wisata di Desa Lolong khususnya Lolong Adventure sudah dikelola dengan cukup baik. Meski demikian, adanya peningkatan sarana dan prasarana diperlukan guna meningkatkan kenyamanan pengunjung. Potensi dari daya tarik buah durian juga masih bisa besar. Bukan sekadar memanfaatkan durian secara langsung, inovasi dapat dilakukan dengan investasi di bidang wisata edukasi durian misalnya membuat musem tentang durian serta pengolahan durian menjadi produk yang diminati pasar. Dengan demikian, wisata di Desa Lolong bisa terus stabil, tidak hanya mengandalkan masa panen durian atau peak season.


© 2026 Dinas Penanaman Modal dan PTSP Kabupaten Pekalongan. All Rights Reserved.