Budidaya ikan nila salin di Kabupaten Pekalongan memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai sektor perikanan unggulan berbasis tambak. Ikan nila salin dikenal memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan berkadar garam, pertumbuhan relatif cepat, serta permintaan pasar yang terus meningkat. Pengembangan budidaya ikan Nila Salin juga dinilai mampu menjadi alternatif usaha bagi masyarakat pesisir, khususnya pada tambak-tambak yang sebelumnya digunakan untuk komoditas lain namun mengalami penurunan produktivitas. Proses budidayanya relatif mudah, biaya pemeliharaan lebih efisien, serta dapat dilakukan dengan sistem tradisional maupun intensif sesuai kemampuan pembudidaya. Apabila didukung dengan penguatan teknologi budidaya, akses pasar, dan pengolahan hasil perikanan, komoditas ikan nila salin dapat menjadi salah satu peluang investasi dan penggerak pertumbuhan ekonomi kawasan pesisir di Kabupaten Pekalongan.
Kecamatan Tirto:
1. Desa Jeruksari
2. Desa Mulyorejo
Kecamatan Siwalan:
1. Desa Depok
2. Desa Blacanan
Kecamatan Wonokerto:
1. Desa Api - Api
2. Desa Pecakaran
3. Desa Tratebang
4. Desa Wonokerto
5. Desa Pesangrahan
Produksi: 157.902 kg/tahun
Senin, 29 Juni 2026
Kabupaten Pekalongan memiliki potensi pengembangan komoditas durian yang cukup besar, terutama di wilayah dataran tinggi dan perbukitan. Kondisi geografis dengan curah hujan yang tinggi, tanah subur, serta iklim yang sejuk menjadi faktor pendukung tumbuh optimalnya tanaman durian di Kabupaten Pekalongan. Produksi durian di Kabupaten Pekalongan umumnya berasal dari kebun rakyat yang dikelola secara turun-temurun. Selain sebagai komoditas pertanian, durian juga berpotensi dikembangkan menjadi produk olahan lain dan diintegrasikan dengan sektor pariwisata. Potensi durian juga didukung oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan melalui penyelenggaraan Festival Durian Lolong yang menjadi salah satu agenda unggulan daerah untuk mempromosikan durian lokal sekaligus menarik wisatawan.
271,458,40 Kintal/tahun Lokasi Budidaya:
Kecamatan Doro
1. Desa Lemahabang
2. Desa Dororejo
3. Desa Rogoselo
Kecamatan Talun
1. Desa Kalirejo
2. Desa Donowangun
3. Desa Sengare
4. Desa Randusari
Kecamatan Karanganyar
1. Desa Lolong
2. Desa Pedawang
3. Desa Pododadi
Kecamatan Doro 23931,7 Hektar
Kecamatan Talut 27.366,9 Hektar
Kecamatan Karanganyar 285.804 Hektar
Senin, 29 Juni 2026
Ayam petelur merupakan salah satu komoditas peternakan unggulan Kabupaten Pekalongan. Jumlah ayam di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2023 sejumlah 249.190 ekor, tahun 2024 sejumlah 507.835 ekor, dan tahun 2025 sejumlah 508.892 ekor dengan lebutuhan pakan per ekor 110 - 120 gram. Lokasi budidaya ayam petelur tersebar di beberapa wilayah khususnya Kecamatan Talun dan Kecamatan Doro dengan luas lahan budidaya di Kecamatan Talun mencapai 120.000 m2 dan Kecamatan Doro mencapai 44.000 m2.
Untuk memenuhi kebutuhan pakan saat ini, para peternak masih embuat pakan sendiri dengan bahan baku konsentrat, jagung dan bekatul dengan cara pembuatan pakan masih dilakukan secara manual sehingga pakan yang dihasilkan belum konsisten kualitasnya. Selain kualitas yang masih kurang konsisten, ketahanan pakan yang dihasilkan pun hanya dapat bertahan untuk satu hari. Artinya para peternak ini harus membuat pakan setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam tersebut. Harga bahan baku pembuatan pakan ternak juga tidak stabil karena peternak juga membeli bahan baku dengan jumlah yang sedikit sehingga harganya relatif mahal. Alternatif lainnya para peternak juga membeli pakan jadi yang harganya tentu lebih mahal.
Peran investor dalam hal produksi pakan ayam petelur yang berkualitas dan terjangkau diharapkan dapat memperbaiki kondisi tersebut dan meningkatkan produktivitas usaha ayam petelur di Kabupaten Pekalongan.
Senin, 29 Juni 2026
Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki potensi besar untuk ekspor sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian daerah, Jawa Tengah sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi dengan luas perkebunan yang terus berkembang serta menghasilkan produk-produk yang berkualitas baik. Pemerintah Kabupaten Pekalongan juga mendorong pengembangan kopi melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan agar produksi kopi daerah dapat terus meningkat. Dengan melalui ekspor ini diharapkan komoditas kopi dari Jawa Tengah semakin dikenal di pasar internasional sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha di daerah. Kopi ini menawarkan sinergi keuntungan yang kompetitif baik bagi investor maupun masyarakat desa setempat.
Kecamatan Kandangserang
1. Desa Trajumas
2. Desa Sukoharjo
3. Desa Gembong
4. Desa Karanggondang
Kecamatan Talun
1. Desa Harjosari
2. Desa Randusari
3. Desa Rogoselo
Kecamatan Karanganyar
1. Desa Pododadi
2. Desa Pedawang
Kecamatan Doro
1. Desa Botosari
2. Desa Donowangun
3. Desa Sengare
4. Desa Jolotigo
Kecamatan Petungkriyono
1. Desa Curug Muncar
2. Desa Telaga Indro
3. Desa Songgodadi
4. Desa Kayu Puring
5. Desa Kasimpar
Kecamatan Lebakbarang
1. Desa Wonosido
2. Desa Tembalang Gunung
3. Desa Kuto Rembet
4. Desa Lebarangbarang
5. Desa Depok
Kecamatan Paninggaran
1. Desa Domyang
2. Desa Tenogo
3. Desa Werdi
Kopi lokal Kabupaten Pekalongan menawarkan sinergi keuntungan yang kompetitif baik bagi investor maupun masyarakat desa setempat. Produk kopi dari pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Pekalongan berhasil menembus pasar internasional, sebanyak 17 ton green bean kopi diekspor ke pasar Eropa yaiyu ke Negara Makedonia dan Yunani dengan nilai transaksi sekitar Rp2,4 miliar. Berdasarkan informasi dari pihak eksportir, permintaan kopi dari Pekalongan di pasar Yunani cukup tinggi. Pemerintah Kabupaten Pekalongan mengapresiasi keberhasilan CVLKN yang merupakan UMKM binaan Pemerintah Kabupaten Pekalongan bersama Bank Indonesia. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pelaku usaha daerah mampu bersaing di pasar global.
Produksi/tahun (Kg):
271,458,40 Kintal/tahun meliputi semua Kecamatan
Luas Panen (Ha)
Kecamatan Doro 71,65 Hektar
Kecamatan Talun 64,55 Hektar
Kecamatan Kandangserang 114,60 Hektar
Kecamatan Petungkriyono 210,5 Hektar
Kecamatan Paninggaran 150,44 Hektar
Kecamatan Lebakbarang 119,69 Hektar
Kecamatan Karanganyar 8 Hektar
Senin, 29 Juni 2026
Salah satu aspek penting dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan suatu negara adalah tingkat pertumbuhan listriknya. Pemerintah mempunyai target pada Tahun 2026 pasokan energi yang berasal dari sumber daya energi terbarukan mencapai 20%. Untuk merealisasikannya maka pemanfaatan sumber daya energi primer terbarukan mulai digalakkan dengan pembangunan PLTMH yang diharapkan mampu mereposisi fungsi PLTD yang memiliki biaya operasional sangat
Jumlah Pelanggan listrik PLN di Kabupaten Pekalongan pada Tahun 2025 sebanyak 267.065 pelanggan, jumlah daya listrik terjual di PLN di Kabupaten Pekalongan sebanyak 601.594.080 Kwh. Pembangkit listrik Tenaga mini Hidro (PLTMH) merupakan investasi prospektif jangka panjang.
Jaringan transportasi pada rencana lokasi berada pada kelas jalan kabupaten yang mana akses dari lokasi berjarak ±115 Km dari exit tol Bojong Kabupaten Pekalongan, dengan waktu tempuh melalui jalur darat (Jalan Tol) 45 menit-60 menit. Terdapat 4 lokasi potensial untuk pendirian PLMT di Kabupaten
Pekalongan, antara lain :
a. Potensi energi air sungai Welo dengan potensi daya listrik 118.689 kW. Terdapat 14 titik pada Daerah aliran sungai Welo di Kecamatan Petungkriyono 6 lokasi, Kecamatan Doro 4 lokasi dan kecamatan talun 4 lokasi.
b. Potensi energi air sungai Sengkarang dengan potensi 29.750 kW. Energi pada titik tertinggi dari Sungai Sengkarang adalah Terdapat 4 titik yang berlokasi pada DAS Sengkarang, 3 lokasi berada di Kecamatan Petungkriyono dan Lebakbarang
c. Potensi energi air sungai Genteng dengan potensi 11.883 kW, dibangun pada DAS Genteng dengan tipe aliran langsung. Dengan dibangunnya PLTM Lambur ini maka berpotensi untuk membantu memenuhi kebutuhan kekurangan daya listrik
d. Sungai Paingan, Terdapat 2 (dua) titik potensi pengembangan PLTMH di DAS Paingan, potensi energi yang adalah 4.237-4790 kW dengan potensi daya Listrik 2.119-2.395 kW Kecamatan Paninggaran dan Kecamatan Kajen.
Senin, 29 Juni 2026
Desa Botosari, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan
Kabupaten Pekalongan memiliki sentra Kerajinan Sapu Glagah yang terletak di Desa Botosari Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan. Proses produksi sapu glagah mencakup berbagai tahapan kegiatan usaha, mulai dari pengolahan bahan baku hingga proses finishing, sehingga mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah cukup besar.
Saat ini, hasil dari kerajinan sapu glagah masih berorientasi untuk sebatas memenuhi permintaan masyarakat lokal Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya. Padahal produk sapu glagah sangat diminati di luar negeri untuk kebutuhan rumah tangga premium. Pasar internasional seperti Korea Selatan dan Jepang banyak menyerap produk ini untuk diekspor kembali. Peran investor sangat diharapkan untuk dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi sapu glagah sehingga berpeluang untuk dipasarkan lebih luas ditingkat nasional.
Industri kerajinan sapu glagah Brotosari terbuka untuk kerjasama dengan investor
Senin, 29 Juni 2026
Desa Paninggaran, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan
Desa Paninggaran saat ini telah memiliki usaha peternakan sapi perah yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai salah satu unit usaha unggulan desa yang telah menciptakan sumber pendapatan bagi masyarakat serta memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian lokal. Dengan ketinggian wilayah 600-900 mdpl, faktor utama yang mendukung pengembangan usaha sapi perah di Desa Paninggaran yaitu ketersediaan pakan hijauan yang melimpah dengan memanfaatkan lahan eks perkebunan cengkeh untuk budidaya hijauan unggul.
Saat ini, usaha sapi perah Desa Paninggaran memiliki aset produksi sapi dewasa 15 ekor, sapi dara 3 ekor, dan pedet 8 ekor dan menyerap tenaga kerja kerja lokal sebanyak 8 orang. Usaha ini telah berjalan dengan baik dan menjalin kemitraan dengan beberapa pembeli susu segar.
Keberadaan industri pengolahan susu di sekitar wilayah Kabupaten Pekalongan menjadi keunggulan tersendiri bagi pengembangan usaha ini. Saat ini usaha sapi perah Desa Paninggaran telah bermitra dengan PT. Nestle Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Terpadu Batang. Kondisi tersebut telah memberikan kepastian pasar dan keberlanjutan usaha bagi peternak sapi perah Desa Paninggaran.
Namun saat ini, kapasitas produksi usaha sapi perah Desa Paninggaran belum mampu memenuhi permintaan susu dari mitra secara keseluruhan di mana PT. Nestle Indonesia membutuhan suplai susu sebanyak 80.000 liter/hari. Tak hanya permintaan dari mitra, permintaan susu secara nasional juga terus meningkat rata-rata pertumbuhan sekitar 6% per tahun. Sementara peningkatan produksi susu dalam negeri hanya berkisar 1% per tahun.
Kesenjangan antara permintaan dan produksi tersebut menunjukkan bahwa peluang pasar susu masih sangat terbuka.
Seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap susu segar dan produk olahannya, BUMDes Desa Paninggaran berencana melakukan pengembangan usaha melalui kerja sama dengan investor. Saat ini usaha sapi perah di Desa Peninggaran merupakan gabungan usaha yang didanai oleh BUMDes Parama, Koperasi Paninggaran Berdikari Makmur, dan Paninggararan Dairy Farm (kelompok pemodal pribadi).
Dalam hal ini usaha sapi perah Desa Paninggaran dapat bekerjasama dengan investor untuk meningkatkan kapasitas usaha melalui penambahan jumlah bibit sapi, perbaikan fasilitas dan teknologi produksi, dan aspek lainnya.
Untuk menjaga keberlanjutan usaha dan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara investor, BUMDes, dan masyarakat, sistem bagi hasil perlu mempertimbangkan kontribusi masing-masing pihak di mana investor dan koperasi bertindak sebagai penyedia modal dan BUMDes sebagai operator.
Berdasarkan simulasi arus kas dengan asumsi umur proyek 5 tahun, berikut adalah indikator utama kelayakan proyek ini :
a. NPV = Rp. ± 1 miliar ; layak
b. Payback period = 3 tahun 2 bulan
c. ROI = 1,41% ; layak
Sabtu, 27 Juni 2026
Lokasi:
Desa Domiyang, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan
Gambaran Umum:
Domiyang Mangosteen Export Hub merupakan proyek inisiatif untuk membangun Packing House modern di Desa Domiyang, Kecamatan Paninggaran. Proyek ini rencananya akan mengintegrasikan puluhan hektar lahan produktif dengan fasilitas sortir, pembersihan, dan cold storage standar global guna mengekspor manggis kualitas premium (Grade A) langsung ke pasar internasional.
Selama bertahun-tahun, para petani Desa Domiyang telah menjadi produsen manggis kualitas premium yang signifikan. Rata-rata hasil panen di Desa Domiyang mencapai 450-500 ton per tahun. Namun nilai ekonomi dan reputasi produk ini tidak dinikmati secara optimal oleh masyarakat lokal. Terjadi anomali rantai pasok dimana komoditas manggis terbaik dari Desa Domiyang dikuasai oleh tengkulak dari wilayah luar yang kemudian mengekspornya menggunakan bendera dan merek dagang mereka sendiri.
Di sisi lain berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Jawa Barat terutama wilayah Purwakarta, Subang, Sukabumi, dan Tasikmalaya menyumbang sekitar 40% dari total ekspor manggis nasional. Menariknya, sebagian besar pelaku usaha di Tasikmalaya menyerap suplai manggis dari Desa Domiyang untuk memenuhi kebutuhan ekspor tersebut. Hal ini mempertegas potensi Domiyang sebagai salah satu sumber bahan baku penting dalam rantai pasok manggis regional meskipun belum diakui secara langsung dalam identitas produk akhir.
Dengan memutus ketergantungan pada pihak ketiga, Desa Domiyang tidak hanya mengamankan margin keuntungan yang selama ini hilang, tetapi juga memastikan standar kualitas global tetap terjaga di bawah kendali lokal, menjadikannya sebuah langkah transformatif dari pertanian subsisten menuju indutri berorientasi ekspor yang berdaulat.
Rencana pengadaan tanah untuk pembangunan fasilitas Packing House dan Gudang sortir akan dilakukan melalui Pemanfaatan Tanah Kas Desa (TKD). Lokasi dipilih secara strategis agar dekat dengan akses jalan utama desa guna memudahkan mobilisasi armada logistik tanpa mengganggu mobilitas harian warga. Pola manajemen yang akan diterapkan dalam proyek ekspor manggis Desa Domiyang adalah pola Kemitraan Strategis Berbasis Komunitas (Community Based Strategic Partnership) bukan swasta murni melalui skema keuntungan bagi hasil.
Kehadiran investor sangat diharapkan untuk membantu pengadaan modal kerja, teknologi pengolahan, dan akses jaringan pasar internasional. Sementara pihak desa menyediakan basis produksi, lahan fasilitas, serta jaminan keamanan sosial dan pasokan. Dengan demikian, harapannya kesejahteraan petani lokal lebih terjamin dan manggis Domiyang dapat berkembang menjadi produk unggulan Kabupaten Pekalongan.
a. NPV = Rp. 4.031.202.147 ; layak
b. IRR = 36% > WACC 11% ; layak
c. Payback period = 2 tahun 8 bulan
d. ROI = 1,7% ; layak
Rabu, 24 Juni 2026
📢 PENGUMUMAN 📢
Halo Sobat DPMPTSP,
Saat ini sistem OSS masih mengalami gangguan sehingga beberapa layanan belum dapat digunakan, yaitu:
🔹 Pendaftaran baru (baik perorangan maupun badan usaha) belum dapat dilakukan.
🔹 Reset kata sandi (password) belum dapat dilakukan.
Sistem OSS sedang melakukan penanganan agar layanan OSS dapat kembali normal secepatnya.
Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan mengucapkan terima kasih atas pengertian serta kesabaran Anda.
Rabu, 17 Juni 2026